25 September 2009

AS Akui Puluhan Nuklir Israel, Yahudi Cemberut!

AS Akui Puluhan Nuklir Israel, Yahudi Cemberut!

Jumat, 08 Mei 2009 13:30

NUKLIR: Salah satu foto Vanunu yang menggambarkan senjata nuklir milik Israel (SuaraMedia News)

NUKLIR: Salah satu foto Vanunu yang menggambarkan senjata nuklir milik Israel (SuaraMedia News)
AMERIKA SERIKAT (SuaraMedia) – Seorang pejabat dalam pemerintahan presiden Barack Obama membuat pernyataan mengejutkan dan sekaligus membuat pemerintah Israel marah besar, pejabat tersebut mengungkapkan bahwa Israel memang memiliki senjata nuklir.

Pemerintahan AS senidir tidak pernah melansir pernyataan bahwa sekutu mereka, Israel, memiliki senjata nuklir, walaupun mantan Perdana Menteri, Ehud Olmert pernah memberikan pengakuan bahwa persenjataan semacam itu dimiliki negaranya.

Tokoh anti-nuklir Mordechai Vanunu menghabiskan waktu selama hampir tiga puluh tahun dalam kungkungan penjara Israel karena telah menyebarkan sejumlah foto dan kesaksian mengenai program nuklir Israel.



Namun, baik AS maupun Israel sama-sama menunjukkan sikap “jangan bertanya, kami tidak akan membongkarnya” mengenai persenjataan nuklir Israel yang diperkirakan memiliki 30 hulu ledak nuklir.

Namun, Asisten Menteri Luar Negeri AS, Rose Gottemoeller, mungkin jadi orang pertama yang merombak sikap pemerintah AS tersebut. Dalam pidatonya di New York, ia membeberkan daftar negara yang harus tunduk pada Traktat PBB untuk tidak memanfaatkan Nuklir, dalam daftar tersebut dicantumkan negara India, Israel, Pakistan dan Korea Utara. Dengan memasukkan nama Israel dalam daftar tersebut, ia mematahkan sikap diam pemerintahan AS mengenai masalah nukllir Israel, yang telah berlangsung selama tiga dekade.

Banyak pihak melontarkan spekulasi bahwa AS mengajarkan teknologi nuklir kepada negara sekutunya, Israel. Dan terdapat bukti-bukti yang mengungkapkan bahwa Israel memiliki peranan kuat dalam proyek nuklir Afrika Selatan.

AS, Perancis, dan Sejarah Nuklir Israel

Selain AS, terungkap juga peranan Perancis dalam membantu pengembangan proyek nuklir Israel. Pada tahun 1950, Perancis membangun reaktor Dimona, yang kemudian menjadi sumber plutonium Israel sekaligus sumber utama bahan bakar senjata nuklir. Reaktor air berat (air yang mengandung isotop Deuterium (H-2) sehingga massa air tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan air biasa, air berat dipergunakan sebagai pendingin untuk reaktor nukllir), yang penting untuk mencapai reaksi atom berantai, disuplai oleh Norwegia pada tahun 1959. Pada tahun 1963, ketika reaktor tersebut mulai dioperasikan, AS menyumbangkan empat ton air berat.

AS juga menyumbangkan reaktor penelitian 5 megawatt di Nahal Soreq. Reaktor tersebut didirikan pada tahun 1960, namun tidak dapat menyediakan plutonium dalam jumlah mencukupi. Reaktor tersebut kemudian dipergunakan sebagai tempat pelatihan bagi para teknisi nuklir Israel. Pada akhir 1960an, Israel diduga kuat telah menyelundupkan lebih dari 100 kilogram uranium yang telah diperkaya dari Pennsylvania.

Kerjasama nuklir Perancis dan Israel dipaparkan secara terperinci dalam buku berjudul Les Deux Bombes terbitan tahun 1982, yang ditulis oleh wartawan Perancis Pierre Pean, yang memiliki akses terhadap arsip negara Perancis berkenaan dengan Dimona. Buku tersebut mengungkapkan bahwa sirkuit pendingin Dimona aslinya dibangun dua hingga tiga kali lebih besar dibandingkan ukuran seharusnya – sebuah bukti bahwa reaktor Dimona memang sengaja dibangun untuk membuat bom berbahan dasar plutonium. Buku tersebut juga mengungkapkan bahwa para teknisi Perancis membangun sebuah pabrik pengambilan inti plutonium di lokasi yang berdekatan. Menurut Pean, bantuan nuklir dari Perancis memungkinkan Israel untuk memproduksi cukup plutonium untuk membuat sebuah bom, bahkan sebelum pecah perang enam hari pada tahun 1967. Perancis juga memberikan informasi rancangan senjata nuklir kepada Israel.

Pada tahun 1986, Francis Perrin, komisaris besar badan energi atom Perancis periode 1951 hingga 1970, memberikan pernyataan di depan pers mengenai kerjasama Perancis dengan Israel selama dua tahun pada akhir dekade 1950an untuk merancang sebuah bom atom. Perrin mengatakan, “Kami rasa kami bisa saja memberikan rahasia pembuatan nuklir kepada Israel, dengan catatan bahwa mereka harus merahasiakannya.” Dia menambahkan: “Kami rasa bom tersebut diarahkan kepada AS, bukan untuk meledakkan AS, namun untuk ancaman yang seolah menegaskan: ‘jika kalian (AS) tidak bersedia membantu kami (Israel) pada saat-saat genting, dimana kami nantinya pasti meminta bantuan kalian, maka kami tidak akan segan-segan mempergunakan bom nuklir yang kami punyai’.”

Setelah AS menemukan reaktor Dimona pada tahun 1960, para ahli nuklir AS memeriksa Dimona setiap tahunnya mulai 1965 hingga 1969. Tidak jelas apa penemuan mereka, namun pada tahun 1968, CIA menyampaikan kesimpulan laporan kepada presiden Lyndon Johnson bahwa Israel memang mengembangkan pembuatan bom atom. Pada tahun 1969, Israel membatasi kunjungan AS untuk melakukan inspeksi nuklir. Beberapa tahun kemudian, tanpa alasan yang jelas, pemerintahan Nixon menghentikan pemeriksaan nuklir Israel.

CIA terus melaporkan perkembangan senjata nuklir Israel pada dekade 1970an. Dalam sebuah memorandum bulan September 1974, CIA menyebut bahwa Israel mendapatkan uranium dalam jumlah besar, kebanyakan diperoleh secara sembunyi-sembunyi.CIA juga menyebut bahwa pengembangan peluru kendali Israel sebagai sebuah bukti bahwa Israel mengembangkan senjata nuklir. Pada bulan Februari 1976, Wakil Kepala CIA untuk bidang sains dan teknologi melaporkan bahwa Israel sudah memproduksi bom berbahan dasar plutonium di reaktor Dimona.

Pada bulan September 1986, Mordechai Vanunu, seorang teknisi militer Israel yang bekerja di lokasi rahasia reaktor Dimona selama delapan tahun, membuktikan kepada dunia dengan bukti-butki kepemilikan senjata nuklir Israel. Dia menyebarkan hampir 60 buah foto berwarna kepada harian London, Sunday Times. Vanunu menyebutnya dengan pabrik bom bawah tanah Israel. Dia juga menyebutkan bahwa pada tahun 1986, Israel sudah memproduksi 100 hingga 200 buah bom pecahan nuklir, Israel juga telah menguasai rancangan termonuklir, dan tampaknya memiliki sejumlah bom termonuklir yang siap dipergunakan.

Sejak tahun 1988, Israel telah mencoba untuk membeli komputer super yang memungkinkan mereka untuk mempercepat perhitungan senjata nuklir dengan faktor bilangan ratusan. Komputer super dapat membuat simulasi gelombang kejut yang dapat memicu ledakan pada hulu ledak nuklir, menghitung pelipatgandaan neutron atom dalam reaksi berantai dari sebuah ledakan, dan memecahkan pembagian dari bom nuklir (plutonium dan uranium yang telah diperkaya)dibawah tekanan dan temperatur yang tinggi – seluruhnya merupakan permasalahan penting dalam merancang senjata nuklir.

Pada bulan januari 1992, Universitas Teknologi Israel memperoleh dua unit komputer paralel yang mampu menyamai kecepatan komputer super buatan perusahaan Inggris, Meiko Scientific Ltd. Penjualan komputer tersebut menggagalkan upaya AS – dan peraturan pembatasan bagi negara-negara yang belum menandatangani perjanjian untuk tidak mendayagunakan senjata nuklir (NPT). Namun pada bulan November 1994, AS menyetujui penjualan sembilan unit komputer super kepada Israel, dua komputer buatan Cray Research, Lima unit buatan IBM, dan dua unit produksi silicon Graphics. Pengguna akhirnya – Universitas Technicon, Universitas Hebrew dan Institut Weizmann – semuanya terhubung dengan program peluru kendali dan nuklir Israel. (dn/imc/wpo) Dikutip oleh SuaraMedia.com
http://www.suaramedia.com/berita-dunia/benua-amerika/6767-as-akui-puluhan-nuklir-israel-yahudi-cemberut.html
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Site

Label 1

Label 2

Comment Box

Labels