11 January 2010

PUJA-PUJI BERLEBIHAN UNTUK A.WAHID

PUJA-PUJI BERLEBIHAN UNTUK A.WAHID

altgus
gus
Serentak dengan wafatnya A.Wahid pada 30 Desember 2009, puja-puji untuk bekas presiden RI ke-4 ini pun berhamburan, bagai tak berkesudahan. Media cetak dan elektronik juga tokoh-tokoh, saling berlomba melontarkan puja-puji habis-habisan dengan perbendaharaan kata-kata sanjungan kepada seorang tokoh bagai tanpa cacat. Puja-puji berbiaya mahal pun bertaburan melalui iklan-iklan di media cetak dan televisi. Tak kurang Partai Keadilan Sejahtera (PKS) memajang iklan, juga para gubernur yang bagai mengikuti “titah” Presiden SBY yang lebih dulu memuji-muji A.Wahid, bahkan perlu rapat kabinet untuk memutuskan prosesi pemakaman A.Wahid dan pengibaran 7 hari berkabung nasional.Semua menjadi sangat berlebih-lebihan.
Golongan minoritas Kristen, Hindhu, KhongHoe Chu dan kelompok Liberal serta Lintas Agama pun tak henti-henti menggelar acara peringatan kematian A.Wahid di mana-mana. Seperti di depan Patung Proklamator, Jalan Pegangsaan Jakarta Pusat, diberi tajuk : Sejuta Lilin Duka Lintas Iman untuk Gus Dur. Lilin pun tak bisa dinyalakan karena hujan lebat mengguyur ibukota pada 2 Januari 2010, malam. Bersamaan itu hampir setiap stasion TV terus-menerus memutar gambar-gambar A.Wahid, diberi narasi puja-puji. Sementara para pendukung setia A.Wahid menulis di Koran-koran akan kehebatan A.Wahid yang dikesankan sebagai “Wali” seraya melontarkan ide agar A.Wahid dianugerahi pemerintah SBY gelar pahlawan nasional. Alasannya A.Wahid adalah tokoh penting pengusung: pluralisme-multikulturisme dan pelindung kaum minoritas.
Ide pemberian gelar pahlawan untuk A.Wahid ini pun disambut pula di mana-mana. Tak kurang Prof.Dr.Amien Rais MA, bekas Ketua MPR (1999-2004) yang justru pada 2001 mempelopori pemakjulan Presiden A.Wahid melalui Sidang Istimewa karena pelanggaran A.Wahid yang amat telak terlibat Bulogate dan Brunaigate serta menerbitkan Dekrit Presiden 2001 yang sangat fatal sebagai pelanggaran kepala negara telah berlaku sebagai tiran dan diktator. Bekas Ketua PP Muhammadiyah ini bahkan mengatakan A.Wahid otomatis harus mendapatkan gelar pahlawan nasional dari pemerintah.
Kata Amien Rais :”Sudah sepantasnya dan selayaknya A.Wahid mendapatkan gelar pahlawan nasional. Siapapun  dan pihak manapun tidak perlu lagi mempersoalkannya, karena separuh  perjalanan hidup A.Wahid sudah didedikasikan dan diabdikan pada bangsa ini sehingga sudah sepantasnya bahkan secara otomatis gelar pahlawan nasional itu diberikan kepadanya,” .Pernyataan A.Rais  usai memberikan Kuliah Umum di Universitas Muhammadiyah Malang , 2 Januari 2010, ini niscaya berlawanan dengan kecamannya menjelang pelengseran Presiden A.Wahid  26 Juli 2001 lalu. Saat itu A.Rais bagai merasa berdosa mempelopori dukungan dan terpilihnya A.Wahid menjadi presiden, dan harus segera menjatuhkan A.Wahid. Ketika itu A.Rais menyatakan A.Wahid sebagai pengidap Paranoid dan menegaskan maraknya Pohon KKN di era A.Wahid saat itu lebih parah dari praktik KKN di era Soeharto. Berdasarkan informasai yang “mutawatir”, kata A.Rais dan disiarkan TPI saat itu (24 April 2000), disimpulkan jika  Presiden Soeharto perlu  waktu 10-15 tahun untuk membangun “Pohon KKN-nya”, maka Presiden A.Wahid bisa membangun “Pohon KKN-nya” hanya dalam tempo 10-15 Minggu saja.
Sikap A.Rais yang kini dibuat kesan legowo ini menurutnya hal yang biasa saja dalam  kehidupan demokrasi. Hanya saja sikap  yang tidak kokoh pendirian pada hampir semua pemimpin negeri ini (termasuk A.Rais) telah menyeret rakyat  menjadi Pak Turut kepada pribadi yang lemah. Lemah ingatan alias pelupa yang malah dengan kadar sangat kental, sehingga menjadi rakyat yang bodoh ini siap dan mudah dicucuk hidungnya dibawa  ke jurang kehancuran sekalipun. Inilah yang terjadi dalam kerangka “bertaklid”, ikut membebek memuja habis-habisan terhadap A. Wahid yang sebenarnya tercatat banyak juga cacat dan salahnya.
Rahmad atau Bencana
Sejatinya riwayat A.Wahid sepanjang hidupnya (69 tahun), sangat gamblang untuk dirunut. Rekaman baik buruknya amat mudah ditemukan dan disimpan siapa saja, karena usia catatan itu barulah beberapa tahun lalu, dan bukan catatan sejarah purba.
Para pemuja A.Wahid hanya berlagak bodoh atau berlagak pilon, kini menyanjung-nyanjung A. Wahid, seolah-olah A.Wahid tokoh legendaris  tanpa cacad. Ingat mereka pun ikut getol memakjulkan presiden A.Wahid.
Majalah terbitan Dewan Dakwah, Media Dakwah hanya beberapa hari setelah A.Wahid terpilih menjadi presiden RI ke 4 pada akhir September 2001, menurunkan  laporan (Terpilihnya Sebagai Presiden) : A.Wahid  : Rahmad Atau Bencana ? Laporan itu sudah memprediksi dan menganalisis terpilihnya A.Wahid adalah sebuah bencana bagi rakyat
Indonesia. Bagi umat Islam yang baru saja terkagum-kagum terpilihnya Wahid di gedung MPR diiringi Salawat Badar, dianggapnya baru pertama terjadi di Indonesia, dan menjadi kemenangan Islam. Benarkah ? Jawaban terkuak tidak usah lama-lama. Hanya beberapa hari duduk sebagai presiden RI ke-4, A.Wahid sudah mengumumkan rencananya hendak membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Isu paling krusial yang amat dikecam umat Islam Indonesia bahkan di era dan oleh Soekarno pun.
Umat Islam dan rakyat
Indonesia pun sepanjang usia pemerintahan A.Wahid yang tercatat 21 bulan, dipenuhi “gegeran” tak habais-habis. Menteri yang diangkatnya sendiri dia goyang dengan berbagai isu dan fitnah. Kebijakannya yang “neko-neko” tak ada hentinya, mulai mengangkat Tokoh Yahudi Henry Kissinger, Sesepuh Singapore Lee Kuan Yew menjadi para penasihat pemerintahan RI. Wahid yang sebelumnya tak pernah berkunjung ke masjid, kini setiap usai shalat Jumat ia selalu melontarkan isu panas dari masjid yang membuat setiap orang blingsatan..
Yang paling esensial, ketika itu adalah mata setiap orang menjadi terbuka lebar-lebar di tengah situasi siapa saja berbalik mengecam performance presiden A.Wahid, bahwa A.Wahid seorang yang cacad. Kini tersingkap semua borok itu yang sejak bertahun-tahun sebelumnya sebenarnya telah dilekatkan ke diri A.Wahid oleh kalangan Islam sendiri (di luar kelompok Nahdliyin). Kelompok minoritas yang semula mendukung presiden A.Wahid berbalik pula saat itu getol memprakarsai “penjatuhan” presiden Wahid. Tak kurang harian Kompas  bertubi-tubi menurunkan laporan  praktek kroni-isme dilakukan menteri BUMN-nya a.Wahid Rozy Munir, juga cara A.Wahid memecati para menterinya sendiri dengan cara yang ugal-ugalan seperti yang dilakukan kepada Yusuf Kalla dan laksamana Sukardi. Belum lagi rencana presiden A.Wahid lain yang tak kalah ugal-ugalan hendak menaikan gaji presiden (dirinya sendiri) dan pejabat tinggi beberapa ribu prosen. Setiap minggu keliling negara-negara di dunia, di tambah isu selingkuh perempuan,dan di perjalanan mengumumkan berbagai rencana hendak mengganti menteri ini dan itu. Padahal skandal Bulogate dan Brunaigate terus menggelinding dan menjadi santapan berita TV dan semua koran termasuk Kompas.
Peristiwa yang sangat kelam menjadi riwayat hidup yang melekat pada diri A.Wahid itu niscaya riwayat faktual yang baru saja terjadi beberapa tahun lalu. Kini tiba-tiba bersamaan wafatnya A.Wahid bagai dihilangkan begitu saja dari sejarah dirinya. Niscaya riwayat kelam itu justru harus dicatat dan diingat untuk tidak diulangi oleh siapapun. Seolah-olah dibangun kesan A.Wahid pahlawan yang tanpa cacad. Padahal di diri A.Wahid justru sebaliknya diselimuti sejarah kelam yang sepanjang waktu kehidupannya banyak hal sering merugikan kepentingan Islam dan umat Islam.
Apalagi dalam konteks A.Wahid dijuluki sebagai tokoh Pelopor Pluralisme, haruslah dikecam, karena istilah Pluralisme sendiri beberapa tahun terakhir ini dikecam umat Islam sebagai virus yang amat berbahaya bagi kebangunan umat Islam. Kini bahkan A.Wahid  dilekati gelar Pelopor Pluralisme itu, seolah-olah Pluralisme sesuatu tindakan, dan kegiatan yang benar dan membanggakan. Barangkali memang tepat bahwa A.Wahid memang Pelopor Pluralisme yang berarti bukanlah pahlawan bagi Islam dan Umat Islam. Malah sebaliknya. Wallauhualambissawab (Abu Abid Faqihuddin)

sumber ; http://www.suara-islam.com/index.php?option=com_content&view=article&id=484:puja-puji-berlebihan-untuk-awahid&catid=48:umum&Itemid=87

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Site

Label 1

Label 2

Comment Box

Labels