21 March 2010

Partisipasi Tentara Gay Belanda Penyebab Genosida Bosnia?

Partisipasi Tentara Gay Belanda Penyebab Genosida Bosnia?

E-mail Cetak PDF
WASHINGTON (Suara Media News) – Purnawirawan Jenderal John Sheehan, mantan komandan tertinggi NATO, mengatakan bahwa pembantaian Muslim di kota Srebrenica, Bosnia, pada tahun 1995 dapat terjadi sebagian karena kebijakan Belanda yang memperbolehkan prajurit gay untuk berpartisipasi dalam militer. Sheehan merujuk pada pembantaian yang terjadi pada tanggal 11 Juli 1995, ketika pasukan Serbia menyerbu pemukiman Muslim Bosnia yang berada di bawah perlindungan pasukan penjaga perdamaian PBB asal Belanda di kota Srebrenica, kemudian membantai Muslim yang menghuni kota tersebut, ada sekitar 8.000 orang pria dan anak laki-laki Muslim Bosnia yang dihabisi dalam operasi keji tersebut.
Sudah barang tentu, pemerintah dan militer Belanda merasa marah ketika Jenderal John Sheehan, seorang purnawirawan korps Marinir yang menjadi komandan tertinggi NATO pada saat pembantaian terjadi, mengatakan kepada Senat AS dalam sebuah rapat dengar pendapat bahwa keberadaan prajurit gay dalam militer dapat mengakibatkan peristiwa seperti yang terjadi di Srebrenica.
Menyusul pernyataan Menteri Pertahanan AS Robert Gates yang menyebutkan bahwa Eropa telah menjadi lemah, Sheehan mengatakan, perubahan yang terjadi setelah Perang Dingin telah mengurangi hasrat pasukan Eropa untuk bertempur.
Jenderal Sheehan mengatakan: “Pasca runtuhnya Uni Soviet pada 1991, saya rasa negara-negara seperti Belanda, Belgia dan Luxemburg telah secara resmi menganggap bahwa kemampuan tempur para prajurit sudah tidak lagi diperlukan.”
“Mereka mendeklarasikan perdamaian dan berupaya melakukan sosialisasi militer, termasuk membuka diri bagi homoseksual. Hal itu membuat pasukan mereka tidak siap pergi berperang,” katanya.
“Yang menjadi rujukan saya adalah ketika pasukan Belanda seharusnya mempertahankan Srebrenica dari serbuan Serbia. Batalion mereka lemah, tidak dipimpin dengan baik, kemudian pasukan Serbia menyerbu kota, dengan mudah memborgol para prajurit ke tiang telepon, menggelandang para Muslim dan mengeksekusi mereka. Itu adalah pembantaian terbesar di Eropa sejak era Perang Dunia II.”
Sheehan menambahkan, kepala staf pasukan Belanda pernah mengatakan kepadanya bahwa keberadaan prajurit gay di Srebrenica melemahkan moral pasukan dan mengakibatkan bencana.
“Omong kosong!,” kata Jenderal Henk van den Breemen, kepala staf pasukan Belanda pada waktu itu. Kedutaan Belanda di Washington membantah argumen Sheehan. Dalam sebuah pernyataan di situs internet kedutaan, duta besar Belanda untuk AS, Renee Jones-Bos, mengatakan bahwa dirinya tidak sependapat dengan klaim purnawirawan jenderal yang pensiun dari militer AS pada tahun 1997 tersebut.
Maxime Verhagen, menteri luar negeri Belanda, mengatakan bahwa ucapan Sheehan tidak perlu ditanggapi, dan kementerian pertahanan Belanda juga mengungkapkan keraguan.
“Tidak bisa dipercaya, orang dengan pangkat seperti dia bicara omong kosong, karena memang itu yang dia katakan,” kata juru bicara kementerian pertahanan Belanda, Roger van de Wetering.
“Pembantaian Srebrenica dan keterlibatan prajurit PBB telah diselidiki secara mendalam oleh Belanda, berbagai organisasi internasional, dan PBB.”
“Dan tidak pernah ada kesimpulan yang menyebutkan bahwa orientasi seksual prajurit punya andil (dalam pembantaian itu).”
“Memalukan dan tidak pantas (diucapkan) seorang tentara,” tambah Eimert van Middelkoop, menteri pertahanan Belanda.
Pengadilan kejahatan perang PBB untuk para penjahat perang bekas negara Yugoslavia di The Hague menyebut pembantaian massal Srebrenica sebagai tindak genosida atau pembersihan etnis.
Sheehan berargumen bahwa memperbolehkan homoseksual masuk militer merupakan bagian dari proses “sosialisasi” pasca Perang Dingin di Eropa dan hanya berkonsentrasi pada upaya menjaga perdamaian, karena sudah yakin bahwa Jerman tidak akan menyerang lagi, dan Rusia bukan lagi ancaman.
Di tubuh Senat AS sendiri, Senator Carl Levin, ketua Komite Pengawas Militer, mengatakan kepada Sheehan bahwa ucapannya tidak mengena.
Sejumlah negara dan entitas lain – termasuk Inggris, Kanada, Australia, dan Israel – secara terbuka memperbolehkan kaum gay untuk bergabung dalam militer. (dn/im/gd/bbc) www.suaramedia.com
http://www.suaramedia.com/berita-dunia/amerika/18998-partisipasi-tentara-gay-belanda-penyebab-genosida-bosnia.html
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Site

Label 1

Label 2

Comment Box

Labels