23 January 2011

Muhammad Alexander Pertz: Finding the Story of Islam in the American Boy Book

Rabu, 19 Jan 2011

 Muhammad Alexander Pertz: Finding the Story of Islam in the American Boy Book
ALEXANDER PERTZ born of Christian parents in 1990. Since the beginning of his mother has decided to let him choose his religion away from the influence of family or community. Once she could read and write, then brings her mother's religious books of all religions, whether of religion or religious heavens earth. After reading the books in depth, Alexander decided to become a Muslim. Though he never met one Muslim.
He was very in love with this religion to the extent he learned the prayer, and understand many of the laws syar'i, read the history of Islam, study the many Arabic sentences, memorizing some letters, and learn azan.
All that without even meeting with a Muslim. Based on these readings he decided to change his name to Muhammad Abdullah, in order to get a blessing for the Prophet Muhammad which he loved since childhood.
One Muslim journalist to see him and asked the boy. However, before the journalist asked him, the boy told the reporter asked, "Are you the one who memorized the Koran?"
The reporter said: "No." But the reporters could feel the boy's disappointment over the answer.

    
.... After reading the books in depth, Alexander decided to become a Muslim. Though he never met one Muslim ....
The boy again said, "But you are a Muslim, and understand Arabic, is not it?" He showered it with lots of questions reporters. "Did you already perform the pilgrimage? Do you have performed the 'Umrah? How you can get the clothes of Ihram? Is it expensive ihram clothes? Is it possible I bought it here, or do they only sell them in Saudi Arabia alone? What difficulties are you experiencing, with your being as a Muslim in the community who are not Islamic? "
After the reporter answered as best he could, the boy returned to talk and tell about some things with regard to his friends, or teachers, something that is related to eating or drinking, was wearing a white cap, ghutrah (turban) that he wrap his head with a model of Yemen, or establishment in the public garden to carry a call to prayer before he prays. Then he said with great remorse, "Sometimes I lose some prayers because of my ignorance about the times of prayer."
Then the reporter asked the boy, "What makes you interested in Islam? Why did you choose Islam, not something else? "He paused for a moment and then answered.
The boy was silent for a moment, then replied, "I do not know, everything that I know is from what I read about Islam, and every time I add to my reading, the more my love in Islam."

    
.... All that I know is from what I read about Islam, and every time I add to my reading, the more my love to Islam ....
The journalist asked, "Do you have the fast of Ramadan?"
Muhammad smiled as he replied, "Yes, I have been fasting and Ramadan that perfectly. Alhamdulillah, and it was the first time I fasted in it. It used to be difficult, especially in the first days. " Then he continued: "My father was scared that I would not be able to fast, but I fast and do not believe it."
"What's your ambition?" Asked the reporter
Quickly Muhammad replied, "I have many ideals. I would like the pilgrimage to Mecca and kissed the Black Stone. "
"Indeed, I note that your desire to perform the pilgrimage is very big. Is there cause it? "Asked another reporter.
Muhammad's mother for the first time come to speak up, he said: "Verily, the Kaaba picture has fulfilled his room, some people think that what he was passed at the present moment is a kind of fantasy, a kind of fantasy that will stop in one day. But they did not know that he's not just serious, but mengimaninya very deeply to the extent that can not be perceived by others. "
Behold the smile on the face of Muhammad 'Abdullah, he saw his mother to defend him. Then he gave information to his mother about tawaf around the Kaaba, and how the pilgrimage as a symbol of equality among humans, as God has created them regardless of skin color, nation, rich or poor.
Then Muhammad continued, "I've been saving money by collecting the rest of my pocket money so I can go to Makkah Al-Mukarramah. I heard that the trip there will cost 4 thousand dollars, and now I have 300 dollars. "

    
.... I'd save the rest of my pocket money so I can go to Makkah Al-Mukarramah. The trip there will cost 4 thousand dollars, and now I have 300 dollars ....
His mother was above it and say to try to eliminate the impression of his error, "I do not mind and prevent him to go to Mecca, but we do not have enough money to send it in the near future."
"What is your ambition else?" Asked the reporter to the boy.
"I aspire for the Palestinians back into the hands of the Muslims. This is the earth they were stolen by the Israelis (Jews) from them, "said Muhammad.
Her mother looked at him in amazement. And he also hinted that previously had been a debate between him and his mother around this theme.
Muhammad said, "Mom, you have not read history, read history, it really has happened" expropriation of Palestine. "

    
Cita-citaku .... is that I want to learn Arabic, memorizing the Qur'an, and studying in Islamic countries ....
"Do you have other aspirations?" Asked another reporter.
Muhammad replied, "Cita-citaku is that I want to learn Arabic and memorize the Koran."
"Do you wish to study in Islamic countries?" Asked the reporter
"Sure!" He said.
"Do you have a difficulty in terms of food? How do you avoid pork? "
Muhammad replied, "Pigs are animals that are very dirty and disgusting. I was very surprised, how they eat meat. My family knows that I do not eat pork, so they do not menghidangkannya for me. And if we go to a restaurant, so I told them that I do not eat pork. "
"Do you pray at school?"
"Yes, I have made a secret place in the library. I pray there every day, "said Muhammad.
Then came the maghrib prayer time in the middle of the interview. The boy immediately told reporters, "Would you allow me to carry a call to prayer?"
Then he stood up and proclaimed the call to prayer. And without being felt, the tears flowed in both eyes when the reporter saw and listened to the boy's voice call to prayer. Subhanallah! [Riafariana / VOA-islam.com]

=====================

Muhammad Alexander Pertz: Kisah Bocah Amerika Menemukan Islam dalam Buku

ALEXANDER PERTZ dilahirkan dari kedua orang tua Kristen pada tahun 1990. Sejak awal ibunya telah memutuskan untuk membiarkannya memilih agamanya jauh dari pengaruh keluarga atau masyarakat. Begitu dia bisa membaca dan menulis, maka ibunya menghadirkan untuknya buku-buku agama dari seluruh agama, baik agama langit atau agama bumi. Setelah membaca buku-buku secara mendalam, Alexander memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Padahal ia tak pernah bertemu muslim seorangpun.
Dia sangat cinta dengan agama ini sampai pada tingkatan dia mempelajari sholat, dan mengerti banyak hukum-hukum syar’i, membaca sejarah Islam, mempelajari banyak kalimat bahasa Arab, menghafal sebagian surat, dan belajar azan.
Semua itu tanpa bertemu dengan seorang muslim pun. Berdasarkan bacaan-bacaan tersebut dia memutuskan untuk mengganti namanya menjadi Muhammad Abdullah, dengan tujuan agar mendapatkan keberkahan Rasulullah SAW yang dia cintai sejak masih kecil.
Salah seorang wartawan muslim menemuinya dan bertanya pada bocah tersebut. Namun, sebelum wartawan tersebut bertanya kepadanya, bocah tersebut balik bertanya kepada wartawan itu, ”Apakah engkau seorang yang hafal Al Quran?”
Wartawan itu berkata: ”Tidak.” Namun sang wartawan dapat merasakan kekecewaan anak itu atas jawabannya.
....Setelah membaca buku-buku secara mendalam, Alexander memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Padahal ia tak pernah bertemu muslim seorangpun....
Bocah itu kembali berkata, ”Akan tetapi engkau adalah seorang muslim, dan mengerti bahasa Arab, bukankah demikian?” dia menghujani wartawan itu dengan banyak pertanyaan. ”Apakah engkau telah menunaikan ibadah haji? Apakah engkau telah menunaikan ’umrah? Bagaimana engkau bisa mendapatkan pakaian ihram? Apakah pakaian ihram tersebut mahal? Apakah mungkin aku membelinya di sini, ataukah mereka hanya menjualnya di Arab Saudi saja? Kesulitan apa sajakah yang engkau alami, dengan keberadaanmu sebagai seorang muslim di komunitas yang bukan Islami?”
Setelah wartawan itu menjawab sebisanya, anak itu kembali berbicara dan menceritakan tentang beberapa hal berkenaan dengan kawan-kawannya, atau gurunya, sesuatu yang berkenaan dengan makan atau minumnya, peci putih yang dikenakannya, ghutrah (serban) yang dia lingkarkan di kepalanya dengan model Yaman, atau berdirinya di kebun umum untuk mengumandangkan azan sebelum dia shalat. Kemudian ia berkata dengan penuh penyesalan, ”Terkadang aku kehilangan sebagian shalat karena ketidaktahuanku tentang waktu-waktu shalat.”
Kemudian wartawan itu bertanya pada sang bocah, ”Apa yang membuatmu tertarik pada Islam? Mengapa engkau memilih Islam, tidak yang lain saja?” dia diam sesaat kemudian menjawab.
Bocah itu diam sesaat, kemudian menjawab, ”Aku tidak tahu, segala yang aku ketahui adalah dari yang aku baca tentang Islam, dan setiap kali aku menambah bacaanku, maka semakin banyak kecintaanku pada Islam.”
....Segala yang aku ketahui adalah dari yang aku baca tentang Islam, dan setiap kali aku menambah bacaanku, maka semakin banyak kecintaanku pada Islam....
Wartawan bertanya kembali, ”Apakah engkau telah puasa Ramadhan?”
Muhammad tersenyum sambil menjawab, ”Ya, aku telah puasa Ramadhan yang lalu secara sempurna. Alhamdulillah, dan itu adalah pertama kalinya aku berpuasa di dalamnya. Dulunya sulit, terlebih pada hari-hari pertama”. Kemudian dia meneruskan : ”Ayahku telah menakutiku bahwa aku tidak akan mampu berpuasa, akan tetapi aku berpuasa dan tidak mempercayai hal tersebut”.
”Apa cita-citamu?” tanya wartawan
Dengan cepat Muhammad menjawab, ”Aku memiliki banyak cita-cita. Aku ingin haji ke Makkah dan mencium Hajar Aswad”.
”Sungguh aku perhatikan bahwa keinginanmu untuk menunaikan ibadah haji adalah sangat besar. Adakah penyebab hal tersebut?” tanya wartawan lagi.
Ibu Muhammad untuk pertama kalinya ikut angkat bicara, dia berkata: ”Sesungguhnya gambar Ka’bah telah memenuhi kamarnya, sebagian manusia menyangka bahwa apa yang dia lewati pada saat sekarang hanyalah semacam khayalan, semacam angan yang akan berhenti pada suatu hari. Akan tetapi mereka tidak mengetahui bahwa dia tidak hanya sekedar serius, melainkan mengimaninya dengan sangat dalam sampai pada tingkatan yang tidak bisa dirasakan oleh orang lain”.
Tampaklah senyuman di wajah Muhammad ’Abdullah, dia melihat ibunya membelanya. Kemudian dia memberikan keterangan kepada ibunya tentang thawaf di sekitar Ka’bah, dan bagaimanakah haji sebagai sebuah lambang persamaan antar sesama manusia sebagaimana Tuhan telah menciptakan mereka tanpa memandang perbedaan warna kulit, bangsa, kaya, atau miskin.
Kemudian Muhammad meneruskan, ”Aku sudah menabung dengan mengumpulkan sisa dari uang sakuku agar aku bisa pergi ke Makkah Al-Mukarramah. Aku mendengar bahwa perjalanan ke sana membutuhkan biaya 4 ribu dollar, dan sekarang aku mempunyai 300 dollar.”
....Aku sudah menabungkan sisa dari uang sakuku agar aku bisa pergi ke Makkah Al-Mukarramah. Perjalanan ke sana membutuhkan biaya 4 ribu dollar, dan sekarang aku mempunyai 300 dollar....
Ibunya menimpalinya seraya berkata untuk berusaha menghilangkan kesan keteledorannya, ”Aku sama sekali tidak keberatan dan menghalanginya pergi ke Makkah, akan tetapi kami tidak memiliki cukup uang untuk mengirimnya dalam waktu dekat ini.”
”Apakah cita-citamu yang lain?” tanya wartawan kepada sang bocah.
“Aku bercita-cita agar Palestina kembali ke tangan kaum muslimin. Ini adalah bumi mereka yang dicuri oleh orang-orang Israel (Yahudi) dari mereka,” jawab Muhammad.
Ibunya melihat kepadanya dengan penuh keheranan. Maka dia pun memberikan isyarat bahwa sebelumnya telah terjadi perdebatan antara dia dengan ibunya sekitar tema ini.
Muhammad berkata, ”Ibu, engkau belum membaca sejarah, bacalah sejarah, sungguh benar-benar telah terjadi perampasan terhadap Palestina.”
....Cita-citaku adalah aku ingin belajar bahasa Arab, menghafal Al-Quran, dan belajar di negeri Islam....
”Apakah engkau mempunyai cita-cita lain?” tanya wartawan lagi.
Muhammad menjawab, “Cita-citaku adalah aku ingin belajar bahasa Arab, dan menghafal Al-Quran.”
“Apakah engkau berkeinginan belajar di negeri Islam?” tanya wartawan
“Tentu!” tukasnya.
”Apakah engkau memiliki kesulitan dalam hal makanan? Bagaimana engkau menghindari daging babi?”
Muhammad menjawab, ”Babi adalah hewan yang sangat kotor dan menjijikkan. Aku sangat heran, bagaimanakah mereka memakan dagingnya. Keluargaku mengetahui bahwa aku tidak memakan daging babi, oleh karena itu mereka tidak menghidangkannya untukku. Dan jika kami pergi ke restoran, maka aku bilang kepada mereka bahwa aku tidak memakan daging babi.”
”Apakah engkau shalat di sekolah?”
”Ya, aku telah membuat sebuah tempat rahasia di perpustakaan. Aku shalat di sana setiap hari,” jawab Muhammad.
Kemudian datanglah waktu shalat maghrib di tengah wawancara. Bocah itu langsung berkata kepada wartawan, “Apakah engkau mengizinkanku untuk mengumandangkan azan?”
Kemudian dia berdiri dan mengumandangkan azan. Dan tanpa terasa, air mata mengalir di kedua mata sang wartawan ketika melihat dan mendengarkan bocah itu menyuarakan azan. Subhanallah!! [riafariana/voa-islam.com]

http://www.voa-islam.com/news/profile/2011/01/19/12852/muhammad-alexander-pertz-kisah-bocah-amerika-menemukan-islam-dalam-buku/
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Site

Label 1

Label 2

Comment Box

Labels