19 December 2009

Islam di Kazakhstan Giatkan Kembali Aktivitas Keagamaan

Islam di Kazakhstan Giatkan Kembali Aktivitas Keagamaan

Dunia IslamSejak konstitusi 1995 menetapkan asas negara sekuler, pertumbuhan Islam melambat.Perkembangan Islam terus berhembus di Kazakhstan. Negara pecahan Uni Soviet yang terletak di Asia Tengah itu dalam beberapa tahun belakangan semakin gencar menerapkan nilai-nilai, prinsip dan praktik keislaman dalam berbagai bidang kehidupan, setelah sempat mengendur.Sejak menjadi negara independen awal tahun 1990-an, semangat keislaman di tengah masyarakat sebenarnya tak pernah surut. Ini merupakan imbas setelah mereka mengalami penekanan di era komunis Soviet sebelumnya.Begitu lepas dari pengaruh Moskow, upaya untuk menggiatkan aktivitas keagamaan segera dilakukan, semisal pembinaan masjid dan sekolah agama dengan bantuan keuangan dari Turki, Mesir, dan Arab Saudi. Keduanya berkembang pesat di negara multietnis ini.Pada 1991, 170 buah masjid telah difungsikan, dan lebih dari separuhnya adalah masjid yang baru dibangun. Terdapat pula sekitar 230 komunitas Muslim yang aktif di Kazakhstan.Edisi Alquran pertama dalam bahasa Kazakhs yang didasarkan pada alfabet Cyrillic, juga diterbitkan di Almaty (ibu kota negara sebelum pindah ke Astana) pada 1992. Pun perguruan tinggi Islam banyak didirikan, terutama untuk mengkaji literatur-literatur Arab.Semakin banyak negara Islam yang bersimpati dan memberikan bantuan demi tegaknya Islam di Kazakhstan. Pembangunan Pusat Kebudayaan Islam pada 1993 di Almaty, misalnya, didanai dari bantuan luar negeri sebesar 10 juta dolar. Akan tetapi, meski Islam berkembang cukup baik, dan penduduk Muslim menjadi mayoritas, sejatinya Islam bukanlah dasar negara di Kazakhstan. Konstitusi yang dikukuhkan pada 1995 menyebutkan bahwa Kazakhstan adalah negara sekuler. Setelah itu, geliat Islam melambat. Kazakhstan tak banyak menghadirkan aspek-aspek Islam di masyarakat. Pelajaran agama tidak lagi wajib diterapkan di sekolah-sekolah.Akibatnya, pengetahuan masyarakat Islam Kazakhstan pada prinsip-prinsip agama, terbilang minim. Ghirah mereka dalam praktik keislamaan menunjukkan kondisi yang sama.Islam akhirnya dianggap sebagai agama formalitas. Ini dibuktikan dari polling yang pernah dilakukan terhadap sejumlah mahasiswa di Shymkent, Kazakhstan Selatan.Hasilnya cukup memprihatinkan. Hanya empat persen dari mereka yang aktif di masjid, 18 persen hanya datang sekali atau...

http://www.republika.co.id/koran/153/81500/Islam_di_Kazakhstan
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Site

Label 1

Label 2

Comment Box

Labels