27 January 2011

Cruise to Spain Deliver Karima Burns on Islam

Smaller  Reset  Larger
IOL
Pesiar ke Spanyol Mengantarkan Karima Burns pada Islam
Karima Burns

Cruise to Spain Deliver Karima Burns on Islam 

Tuesday, January 25, 2011, 07:52 GMT
       
IOL Karima Burns REPUBLIKA.CO.ID, Granada - Hidayah can indeed come from an unexpected direction. For Karima Burns, a student from Iowa, United States, the guidance would come when he was on a trip to Spain. Tourist guide him to the Alhambra Mosque in Granada, Spain.Seeing a lot of Arabic spelling scattered in buildings is now one panyol tourist attraction, he was stunned. "That is the most beautiful language I've ever seen," he said. "What language is that?" he said a Spanish tourist. "Arabic," they replied. The next day, when the officer asked about language tour of what he wants on a book tour, he replied, "Arab." "Arab?" he said, surprised. "Do you speak Arabic?" "No," Karima said. "Can you give me one in English too?" At the end of the journey, his bag full of brochures in Arabic. "I treat them as if they were made of gold. I'll open it every night and see the letters that flowed across the page," he said. That day he determined, would learn Arabic. *** Karima was raised in the Midwest. His parents are devout religious believers. But Karima always wondered, why pray to God must go through an intermediary? "I intuitively felt that something was wrong with it. Without telling anyone, I secretly prayed to" God. "I truly believe that there is only one entity to pray. But I feel guilty because this is not what has been I teach the old religion. " One day, the event bersilaturahim spiritual teacher to the house the more determined to leave that religion. "I saw a shelf full of the Bible. I asked what that book." Different versions of the Bible, "replied the teacher. It did not seem bothered him at all that there are so many different versions. But, it bothers me. Some of them are completely different and even missing a few chapters from the Bible that I have. I'm really confused, "he said. *** Muslims fall over, Karima return to campus at Northwestern University. Holidays to Spain, really enlighten him. He seemed to find an alternative to the dead end. "I have left the church only a few months before going on vacation and did not know where to turn. I know that I'm not comfortable with what is what is taught during this, but I do not know if there are other alternatives," he said. Back to campus, he took classes in Arabic as well. "I remember, I was one of only three people in class who is very unpopular," he chuckled. He immersed himself in the study of Arabic with a burning passion.He was happy to do homework calligraphy and he went to Arab areas in Chicago just to track down a bottle of Coca Cola is written in that language. Until one day, he was acquainted with the Koran. One of its tasks, is copying a few verses. Instead of working, he's even fun to surf from one paragraph to another paragraph. "It's beautiful. That's what I was looking for, the religion which states very clearly that there is only one God," he said. A name in the Koran is believed to be the "owner version" of the Qur'an, just as there are various versions of the Gospel. But when he reveals the professor, the professor chuckled. "There is only one version of the Koran. What you think, it is his translator," he mimicked the professor. He further studied the Koran, and even then decided to go to Egypt to study Islam. One day a friend asked why he did not convert to Islam if you like it so much. "My heart was Muslim," he answered blindly. But the friend said, bersyahadat still have. So, at a mosque in Egypt, he states become Muslim.

===================


REPUBLIKA.CO.ID, GRANADA - Hidayah memang bisa datang dari arah yang tak terduga. Bagi Karima Burns, mahasiswa asal Iowa, Amerika Serikat, hidayah justru datang saat ia tengah berwisata ke Spanyol.


Pemandu wisatanya mengajaknya ke  Masjid Alhambra di Granada, Spanyol. Melihat banyak ejaan Arab bertebaran di bangunan yang kini menjadi salah satu daya tarik wisata panyol ini, ia tertegun. "Itu adalah bahasa yang paling indah yang pernah kulihat," ujarnya.


"Bahasa apa itu?" ia berkata seorang turis Spanyol. "Bahasa Arab," jawab mereka.


Hari berikutnya, ketika petugas tur ditanya tentang bahasa apa yang dia  ingin di buku turnya, ia menjawab, "Arab."


"Arab?" katanya, terkejut. "Apakah Anda bisa berbicara bahasa Arab?"


"Tidak," Karima menjawab. "Dapatkah Anda memberi saya satu dalam bahasa Inggris juga?"


Pada akhir perjalanan, tasnya penuh brosur berbahasa Arab. "Aku memperlakukannya seolah-olah mereka terbuat dari emas. Aku akan membukanya setiap malam dan melihat huruf-huruf yang mengalir di seluruh halaman," ujarnya.


Hari itu dia bertekad, akan belajar bahasa Arab.


***


Karima dibesarkan di Midwest. Orang tuanya penganut agama yang taat. Namun Karima selalu bertanya-tanya, mengapa berdoa pada Tuhan harus melalui perantara? "Aku intuitif merasa bahwa ada sesuatu yang salah dengan itu. Tanpa memberitahu siapa pun, aku diam-diam berdoa kepada "Tuhan." Saya sungguh-sungguh percaya bahwa hanya ada satu entitas berdoa. Tapi, aku merasa bersalah karena ini bukan apa yang telah agama lama saya ajarkan."


Suatu hari, acara bersilaturahim ke rumah guru rohaninya semakin membulatkan tekad untuk meninggalkan agama itu. "Aku melihat rak penuh  dengan Alkitab. Aku bertanya apa saja kitab itu. "Versi berbeda dari Alkitab," jawab guruku. Ini tampaknya tidak terganggu dia sama sekali bahwa ada begitu banyak versi yang berbeda. Tapi, itu menggangguku. Beberapa dari mereka benar-benar berbeda dan beberapa bab bahkan hilang dari Alkitab yang aku punya. Aku sungguh bingung," ujarnya.


***


Muslim gugur usai, Karima kembali ke kampusnya di Northwestern University. Liburan ke Spanyol, sungguh mencerahkannya.


Ia seolah menemukan alternatif dari kebuntuannya. "Aku telah meninggalkan gereja hanya beberapa bulan sebelum pergi berlibur dan tidak tahu ke mana harus berpaling. Aku tahu bahwa aku tidak nyaman dengan apa yang apa yang diajarkan selama ini, tapi aku tidak tahu apakah ada alternatif lain," katanya.


Kembali ke kampus, ia mengambil kelas bahasa Arab juga. "Aku ingat, aku adalah salah satu dari hanya tiga orang di kelas yang sangat tidak populer itu," ujarnya terkekeh.


Ia menenggelamkan diri dalam studi  bahasa Arab dengan gairah yang menyala. Ia senang mengerjakan PR  kaligrafi dan ia pergi ke daerah-daerah Arab di Chicago hanya untuk melacak botol Coca Cola yang ditulis dalam bahasa itu.


Hingga suatu hari, ia berkenalan dengan Alquran. Salah satu tugasnya, adalah menyalin beberapa ayat. Bukannya mengerjakan, dia malah asyik berselancar dari satu ayat ke ayat lainnya. "Sungguh indah. Itu yang aku cari selama ini, agama yang menyatakan sangat jelas bahwa hanya ada satu Allah," ujarnya.


Sebuah nama dalam Alquran diyakini sebagai "pemilik versi" Alquran, seperti halnya ada Injil dengan beragam versi. Namun ketika ia mengungkapkan para profesornya, sang profesor terkekeh.


"Hanya ada satu versi Alquran. Yang kau pikir, itu adalah penerjemahnya," ia menirukan sang profesor.


Ia makin mendalami Alquran, bahkan kemudian memutuskan untuk pergi ke Mesir belajar Islam.


Suatu hari seorang teman bertanya mengapa ia tidak masuk Islam jika menyukainya begitu banyak. "Hatiku sudah Muslim," ia menjawab sekenanya.


Namun sang teman menyatakan, bersyahadat tetap harus. Maka, di sebuah masjid di Mesir, ia menyatakan keislamannya.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Site

Label 1

Label 2

Comment Box

Labels