Advertisement

Responsive Advertisement

Tentara AS Meminta Maaf Atas Pembantaian terhadap Warga Sipil Irak

Tentara AS Meminta Maaf Atas Pembantaian terhadap Warga Sipil Irak

Selasa, 19/10/2010 10:34 WIB | email | print | share
Seorang mantan tentara Amerika yang ikut ambil bagian dalam serangan di mana 12 orang, termasuk seorang wartawan Reuters, tewas dan dua anak terluka akibat serangan tersebut telah menulis sebuah permintaan maaf secara emosional kepada keluarga korban di Irak.
Ethan McCord terlihat sempat membawa anak-anak Irak itu ketempat aman, dalam video Pentagon dari serangan yang terjadi tiga tahun lalu di pinggiran kota Baghdad. Film ini dirilis di internet awal bulan ini oleh WikiLeaks, situs yang didedikasikan untuk mempublikasikan dokumen rahasia.
"Aksi yang digambarkan dalam video ini adalah kejadian sehari-hari dalam perang ini," tulis McCord dalam permintaan maaf yang juga ditandatangani oleh Josh Stieber, seorang mantan tentara dari unit yang sama.
"Kami mohon kepada Anda apa yang bisa kami lakukan untuk memulai memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh kami."
Video 38-menit yang dirilis wikileaks tersebut telah mempermalukan Pentagon dan menimbulkan kemarahan orang kepada tentara dari pasukan Bravo 2 yang telah membunuh 12 orang layaknya sedang memainkan video game.
McCord mengaku sangat sedih dengan apa yang telah dia saksikan dalam insiden itu bahkan pada hari itu ia meminta untuk bertemu konselor, namun atasannya mengatakan padanya: "Jangan jadi pengecut."
Dalam video itu, sebuah helikopter Apache terlihat menembaki sekelompok orang Irak, dan juga menewaskan seorang fotografer Reuters dan sopirnya. Kemudian helikopter menembak sebuah mobil van yang mencoba menyelamatkan korban yang terluka, sehingga korban yang tewas semakin bertambah.
Pada saat helikopter berputar-putar di atas kepala, pleton McCord tiba dilokasi dengan berjalan kaki. Dia adalah orang yang pertama mendekati mobil van yang ditembak. Di dalam van, seorang gadis duduk menangis di belakang.
"Dia mengalami luka di perut dan di matanya," kenang McCord minggu lalu. Di sampingnya ada seorang anak laki-laki yang berlumuran darah. Di kursi depan ayah mereka duduk merosot ke satu sisi dalam kondisi telah tewas.
"Hanya dari melihat ke dalam van dan jumlah darah yang berada di tubuh anak dan ayahnya, saya langsung berpikir mereka sudah mati."
McCord membawa gadis itu ke rumah untuk diperiksa oleh petugas medis. Kemudian ia kembali ke van.
"Saat itulah anak itu seperti mengalami sesak napas. Dan aku mulai berteriak, "Anak laki-laki masih hidup, anak itu hidup," katanya. Dia mengambil anak itu dan lari menuju ke sebuah kendaraan lapis baja Bradley.
"Dia membuka mata ketika aku membawanya," kenang McCord. "Aku terus mengatakan kepadanya, 'Jangan mati, tidak boleh mati'. Dia menatapku sesaat, lalu matanya kembali menutup.
Sejak malam itu McCord mengatakan bahwa ia merasa "putus asa" saat ia mencoba untuk mencuci seragamnya yang berlumuran darah anak-anak itu, sambil memikirkan seandainya ha itu dialami keluarganya sendiri.
"Jadi saya pergi ke sersan atasan saya dan meminta untuk konsuling mental, karena saya mengalami kesulitan setelah berurusan dengan kejadian tersebut."
Namun atasannya memperingatkan bahwa akan ada "reaksi" jika dia bersikeras ikut konseling. Saya selalu mengalami mimpi buruk. Saya didiagnosa mengalami sindrom stres kronis berat pasca trauma.
McCord akhirnya meninggalkan tentara. Kembali ke rumahnya di Wichita, Kansas, dan kondisinya mulai membaik. Namun, ketika ia menyalakan televisi pada awal bulan ini, ia melihat dirinya dalam rekaman, dalam sebuah video kasar hitam-putih yang telah bocor ke internet.
"Banjir emosi kembali melanda diri saya," katanya. Jantung saya berdetak kencang, mengingat kembali insiden yang telah terjadi beberapa tahun lalu.
"Hal inilah yang membantu saya dan Josh menulis surat permintaan maaf, berharap bahwa kami akan menemukan jalan kepada mereka untuk membiarkan mereka tahu bahwa kami sangat menyesal. Kami mohon maaf atas sistem militer kami, yang terlibat atas pembunuhan ayah mereka dan melukai mereka.
"Kami melakukan apa yang kami bisa lakukan untuk berbicara menentang perang dan kebijakan militer yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Anda dan orang yang Anda cintai," kata McCord dalam surat permintaan maafnya.(fq/times)
http://www.eramuslim.com/berita/dunia/salah-seorang-pelaku-pembantaian-warga-sipil-irak-minta-maaf.htm